"Don’t Look Into The Mirror To See The Future"

Penulis: bepe, 20 April 2012

"Saat ini kita hidup dalam lingkungan moral yang sudah tercemar. Kita jatuh sakit karena terbiasa mengatakan sesuatu yang berbeda dari apa yang kita pikirkan" -  Václav Havel (1936-2011)

Siapakah Václav Havel.? Adakah diantara rekan-rekan yang mengenal nama tersebut.? Saya yakin tidak banyak dari kita yang mengenal nama yang saya sebut diatas. Baiklah sebelum saya jauh bercerita dalam artikel ini, ada baiknya saya memperkenalkan siapa sebenarnya sosok Václav Havel terlebih dahulu. Mengingat dalam artikel ini, saya ingin mengutip sebuah kalimat dari salah satu pidatonya yang sangat terkenal pada tahun 1990..

Václav Havel lahir di Praha 5 Oktober 1936 dan meninggal di Hráde?ek 18 Desember 2011, pada umur 75 tahun. Dia adalah seorang penulis, politikus serta dramawan dari Cekoslovakia. Havel adalah pendiri organisasi anti-komunisme di Cekoslowakia. Setelah Revolusi Beludru yang menandai jatuhnya komunisme di Cekoslowakia pada 1989, ia menjadi pemimpin partai demokrasi Ob?anské fórum. Pada 1989 ia menjadi Presiden Cekoslowakia ke 10 (1989 - 1992) dan saat Ckoslovakia pecah menjadi dua (Rep Ceko dan Slovakia) pada 1993, Havel menjadi Presiden Republik Ceko yang pertama. Jabatan yang dipegangnya dari tahun 1993 hingga 2003, sebelum akhirnya beralih ke tangan Vaclav Klaus..

Havel adalah seorang dramawan yang juga telah menulis buku-buku puisi dan esai. Ia mendapatkan gelar dramawan pada 1963 melalui karya "Zahradní Slavnost", yang segera disusul dengan "Vyrozumní - 1965" yang merupakan karyanya paling terkenal. Ia selalu mengangkat tema-tema pengasingan sosial dalam setiap karyanya. Tulisan-tulisannya penuh dengan kritik terhadap sistem komunis yang totaliter. Kutipan kalimat di awal tulisan ini adalah salah satu contohnya. Havel menyampaikannya kalimat diatas dalam sebuah siaran radio kepada rakyat Cekoslovakia pada tanggal 1 Januari 1990. Hal-hal seperti diataslah yang memaksa Václav Havel keluar masuk penjara..

Apa yang saya sampaikan tadi adalah sekilas kisah mengenai siapa itu Václav Havel. Dan di bawah ini saya akan mulai bercerita mengenai apa yang tengah saya pikir dan rasakan saat ini. Sebuah keadaan yang tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Václav Havel, walau dalam dimensi yang jauh-jauh lebih kecil..

Dalam dua tahun terakhir, seperti yang kita ketahui bersama bahwa kondisi persepakbolaan negeri kita tercinta ini tengah dalam keadaan yang sakit keras atau boleh juga dikatakan sekarat. Konflik internal berkepanjangan yang dipicu oleh arogansi dua kubu yang berseteru membuat prestasi persepakbolaan kita hanya jalan di tempat, jika tidak boleh dikatakan mundur kebelakang..

Penyakit yang awalnya hanya diderita oleh kalangan pemegang kekuasan ini, lambat tapi pasti mulai menular ke golongan akar rumput yang sebenarnya boleh dikatakan tidak begitu mengerti dengan titik permasalahan yang sebenarnya. Jurus-jurus propaganda melalui media-media baik cetak, online maupun elektronik sedikit demi sedikit mulai membentuk dua opini publik yang sangat kuat. Dua opini yang saling bertentangan serta sarat akan unsur-unsur kebencian serta kecurigaan antara satu dengan yang lain..

Setelah segala konflik dan perang pembenaran dari kedua kubu yang berseteru serta adanya tekanan dari AFC serta FIFA, akhirnya keluarlah sebuah keputusan yang menyatakan jika "Pemain-pemain ISL yang sebelumnya dinyatakan ilegal dn tidak diperbolehkan membela tim nasional, sekarang sudah kembali dapat membela panji Merah-Putih". Keputusan tersebut seketika kembali menyulut pergolakan pendapat yang sangat ramai, jikalau tidak boleh saya katakan terlalu berlebihan..

Pihak klub-klub ISL bersikeras tidak bersedia melepaskan pemainnya dengan segala macam alasan, yang dalam hal ini tidak dapat dikatakan seluruhnya salah. Sedangkan PSSI sendiri tetap kekeuh berpendapat jika tidak ada alasan bagi klub untuk tidak melepaskan pemainnya untuk kepentingan tim nasional, yang dalam hal ini juga ada betulnya. Pemain sendiri seperti biasa berada di posisi yang serba salah, dalam hal ini berada diantara benturan dua kewajiban yang sama-sama penting dan mendasar, yaitu kewajiban menaati kontrak dengan klub dan disisi lain memenuhi kewajiban membela negaranya..

Sedang masyarakat luas juga seperti biasa, hanya bisa mengomentari serta memberikan penilaian sesuai dengan keberpihakan mereka terhadap golongan-golongan tertentu, walaupun sejujurnya tanpa adanya pemahaman permasalahan yang mencukupi. Jika sudah demikian, maka pemainlah yang berada di ujung tandung, "Nasionalisme dan Profesionalisme" pemain yang akan menjadi sorotan masyarakat, walau sejujurnya terlalu sempit dalam hal ini untuk melakukan penilaian terhadap dua hal tersebut. Akan tetapi apakah masyarakat mau mengerti.? Saya yakin "TIDAK"..

Padahal sebenarnya jika kita semuanya mau sedikit merendahkan hati dan berjiwa besar, maka ada langkah-langkah yang sejatinya lebih sederhana agar segala permasalahan sepakbola negeri ini tidak semakin melebar dan semakin memburuk, yaitu:

1, Klub-klub ISL merelakan para pemainnya untuk bergabung ke pelatnas tim nasional, dengan catatan ketika klub yang bersangkutan akan bermain dalam lanjutan kompetisi  ISL, maka para pemain tersebut mendapatkan dispensasi untuk kembali ke klubnya masing-masing. Sehingga dalam hal ini tidak ada pihak yang dirugikan baik klub, tim nasional maupun pemain itu sendiri..

Atau:

2, Guna menjaga jangan sampai adanya benturan kepentingan yang bisa jadi akan sarat unsur politis, maka sebaiknya kedua belak pihak dalam hal ini PSSI dan PSSI hasil dari KLB sama-sama meniadakan segala agenda yang berhubungan dengan tim nasional, sampai dengan adanya keputusan dari FIFA. Biarkanlah para pemain fokus pada kewajiban mereka di klub masing-masing. Jangan seret pemain masuk ke dalam pusaran perseteruan yang semakin tak tentu arah ini..

Saya sendiri secara pribadi sudah berdiskusi dengan Persija Jakarta dalam membahas masalah ini. Awalnya saya bersikeras meminta Persija untuk melepaskan saya, sebaliknya Persija juga berkeyakinan jika mereka berhak mempertahankan 5 pemainnya yang dipanggil tim nasional, termasuklah saya. Persija Jakarta menyampaikan beberapa hal yang harus saya akui cukup mendasar dan benar adanya. Hal tersebut yang pada akhirnya membuat saya dapat menerima keputusan managemen untuk mempertahankan saya..

Selain dengan alasan agenda tim nasional bukan merupakan agenda resmi dari FIFA, jadwal pelatnas yang berbenturan dengan jadwal Persija dalam lanjutan kompetisi ISL serta belum adanya pembicaraan formal antara PSSI dengan Persija Jakarta. Satu hal lagi yang menurut mereka sangat mendasar adalah, bagaimana PSSI dapat memanggil pemain-pemain dari Persija Jakarta, sedangkan klub tempat dimana para pemain tersebut bernaung tidak pernah diakui oleh institusi tersebut..

Tiga alasan awal mungkin masih dapat diperdebatkan, hal tersebut sebenarnya dapat dengan gampang di selesaikan jika ada koordiansi yang baik antara PSSI dan Persija Jakarta atau dengan klub-klub ISL yang lain. Akan tetapi pada alasan terakhir, menurut saya akan sangat sulit untuk dicari jalan keluarnya, "Bagaimana PSSI tidak mengakui klub-nya akan tetapi mengakui pemain-nya". Dan menurut saya pribadi, dalam hal ini sangat masuk akal jika Persija Jakarta mengambil sikap keras..

Terlepas dari itu semua, keadaan persepakbolaan Indonesia yang semakin memburuk ini adalah akibat dari sudah tidak adanya lagi sikap saling percaya diantara kita semua. Hal tersebutlah yang membuat virus-virus kecurigaan serta kebencian itu tumbuh dengan suburnya dalam hati kita. Karena dengan dilandasi oleh hal-hal yang tersebut diatas, maka pada akhirnya kita akan saling mengabaikan antara satu sama lain, dan hanya memikirkan kepentingan golongan kita masing-masing. Konsep-konsep seperti cinta, persahabatan, kasih sayang, kerendahan hati serta kerelaan untuk saling memaafkan itu sudah kehilangan makna dan dimensi-dimensinya..

Jika saja dualisme klub dan PSSI ini tidak terjadi, maka hal-hal seperti apakah kegiatan tim nasional itu agenda resmi FIFA atau tidak, serta berbenturanya jadwal pelatnas dengan jadwal liga, akan menjadi sebuah hal yang tidak penting dan mendasar lagi. Bukankah pada kesempatan yang lalu-lalu tim nasional juga sering mengikuti beberapa turnamen yang sifatnya bukan agenda resmi FIFA.? Dan bukannya sudah banyak kali juga terjadi berturan jadwal antara kegiatan tim nasional dengan jadwal liga Indonesia. Semuanya dapat dengan sangat mudah untuk di diskusikan serta di koordinasikan dengan kepala yang sama-sama dingin, karena berada di bawah satu federasi..

Akhir sekali patut untuk kita camkan bersama, jika Indonesia kita tercinta ini hanya berada di peringkat 151 dunia, bukan berada dalam deretan 10 besar dunia. Jangankan juara Asia atau bahkan juara dunia, juara Asia tenggara pun terakhir kita raih 21 tahun yang lalu. Jadi mari kita berkaca diri bersama-sama, pantaskah kita berpolemik sedemikian rumit dan panjangnya.?

Seharusnya hal terpenting yang segera kita pikirkan bersama adalah bagaimana kita mampu mencari jalan, agar segala aset atau modal yang kita miliki ini dapat berkembang secara maksimal, sehingga pada akhirnya mampu memberikan sebuah kebanggan bagi negara ini. Seperti yang sering saya sampaikan, bahwa:

"Indonesia tidak pernah kekurangan talenta-talenta muda berbakat, akan tetapi kita tidak pernah mampu menemukan formula yang tepat untuk mengawal mutiara-mutiara muda tersebut, hingga pada akhirnya mampu memberikan kebanggan bagi rakyat Indonesia"

Kami para pemain di seluruh Indonesia hanya ingin bermain sepakbola, entah melawan siapapun. Kami "Tidak Ingin dan Tidak Pernah Ingin" memihak kepada siapapun, oleh karena itu biarkanlah kami bermain untuk diri kami sendiri, untuk keluarga kami dan untuk bangsa dan negara yang kami cintai..

"Selamat ulang tahun PSSI yang ke 82.. Beranjak tua itu pasti, menjadi dewasa dan bijaksana itu pilihan"..

Semoga kita semua segera mampu mencari obat, bagi penyakit moral yang selama ini telah menggerogoti jiwa dan raga bangsa ini..

"Don’t look into the mirror to see the future, because all you will see is what behind you"..

 

Selesai

 

 

Buku

Buku Bambang Pamungkas, Ketika Jemariku Menari