*Hotel Bintang Situk, Bontang
Senin 2 Maret 2009, 09:20 WITA..


Pagi ini matahari bersinar dengan gagahnya, walaupun sedikit terlihat awan bergelantungan di sana-sini, akan tetapi cuaca pagi ini masih nampak cerah, terik dan sedikit gerah mungkin kata yang lebih tepat untuk menggambarkannya. Setelah kemarin seharian kota ini diguyur hujan yang lumayan lebat dan cukup lama, tentu cuaca hari ini cukup membuat saya bersemangat. Malam ini kami akan berhadapan dengan tuan rumah PKT Bontang dalam lanjutan DISL putaran kedua. Setelah menjalankan rutinitas sarapan pagi, saya pun bergegas kembali kekamar saya yang bernomor 110, di lantai 2 hotel ini. Tujuan saya adalah kembali tidur..


Entah mengapa saat ini susah sekali saya untuk memejamkan mata, mungkin itu terjadi karena saat ini saya memang sedikit gelisah, karena putri kecil saya Syaura sedikit agak demam sejak semalam. Seperi biasa, berbeda dengan Salsa dan Abel, Syaura selalu agak demam jika saya harus melakoni partai away seperti saat ini. Alhasil saya pun hanya tergolek lemas di atas tempat tidur dengan mata menatap langit-langit kamar yang berwarna putih, sahabat saya Ismed Sofyan tengah tertidur pulas di tempat tidurnya. Di tengah kegusaran saya, tiba-tiba saya teringat dengan satu hal. Mengapa saya tidak menulis sebuah artikel saja, iya mungkin menulis adalah jalan terbaik untuk membunuh kegundahan hati saya. Maka, ditemani kehebatan jari Tiesto dalam Album “In Search Of Sunrise 6″, saya pun mulai memainkan kebolehan jari saya dalam menari-nari di atas tuts laptop saya..


Beberapa bulan terakhir, kritik dan cacian silih berganti menghantam diri saya, mengingat dari begitu buruknya penampilan saya dalam beberapa turnamen terakhir, tentu hal tersebut sangat beralasan dan wajar. Saya tidak bisa lari dari kenyataan jika memang apa yang saya tampilkan tidak mencerminkan kemampuan saya yang sebenarnya..


Sejujurnya penampilan saya tidak hanya membuat masyarakat geram, akan tetapi juga membuat saya merasa kecewa terhadap diri saya sendiri. Secara pribadi, saya pernah mengalami masa yang lebih sulit dari apa yang terjadi saat ini. Saat itu, dengan kesabaran dan keyakinan, secara bertahap saya mampu keluar dan mengatasi semuanya. Tidak mudah memang, akan tetapi sebagai pribadi saya adalah seseorang yang “Selalu berpikir positif, percaya diri dan optimis” hal tersebut membuat saya selalu yakin dengan kemampuan yang saya miliki. Dan saya cukup gembira, karena keyakinan itu masih ada sampai saat ini, saat dimana saya menulis artikel ini..


Dalam 3 pertandingan Persija terakhir, melawan Persela, Persiwa dan Persiba, saya berhasil menyumbang 5 gol bagi Persija. Sontak hal tersebut memantik timbulnya sebuah pertanyaan, suatu pertanyaan yang sejujurnya sangat menggangu diri saya. Pertanyaan yang dari dulu berulang-ulang di arahkan kepada diri saya, pada tahun 2000, 2003, 2005 dan sekarang 2009 pertanyaan yang sama kembali harus saya jawab, ffuuhh.. sangat menyebalkan.


*Bambang, Apakah ini menjadi bukti bahwa Bambang Pamungkas belum habis…???


Sebagai pemain sepakbola, saya selalu berusaha memberikan kemampuan terbaik saya bagi tim yang saya bela. Memang, dalam beberapa kesempatan apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, akan tetapi pada pandangan saya itu hanya bagian dari sebuah siklus, dimana terkadang ada saatnya kemampuan kita tidak keluar secara maksimal atau malah mengalami jalan buntu. Saya rasa hal tersebut sangatlah manusiawi, dan semua orang pasti mengalami hal tersebut. Atlet dunia manapun saya yakin pernah mengalami saat-saat dimana pemain tersebut kehilangan sentuhan..


Jadi jika saat ini saya kembali mampu mencetak gol bagi Persija, saya rasa itu tidak menggambarkan apapun. “Saya Tidak Ingin Membuktikan Apapun Kepada Siapapun”.. Apa yang saya lakukan, murni karena itu memang sudah menjadi tugas saya. Saya adalah pemain Persija, dan memberikan kemampuan terbaik saya bagi Persija jelas merupakan tugas & kewajiban saya, sama seperti pemain Persija yang lain. So.. tidak ada yang perlu dibesar-besarkan bukan..


Jika ada hal yang harus dibuktikan pun, dalam hal ini mungkin lebih tepat jika itu saya tujukan pada diri saya sendiri. Karena sebagai pribadi, saya mengerti betul sejauh mana kemampuan saya serta apa yang mampu saya perbuat. Sehingga, di sini saya menantang diri saya sendiri untuk mampu “Mengejawantahkan” keyakinan saya tersebut. Target itu tertuang dalam “Blue Print” yang berada di dalam benak saya. Dan apakah semua orang perlu tahu tentang isinya…???


ehm.. ehm.. “I DON’T THINK SO”..