Apa yang sedang terjadi dengan Bambang Pamungkas..??


Pertanyaan itu mungkin menjadi isu utama di kalangan masyarakat sepakbola Indonesia akhir-akhir ini. Sebuah pertanyaan yang sejujurnya juga ada dalam benak saya sendiri, tidak pernah lagi mencetak gol selama kurang lebih 2,5 bulan membuat orang mulai meragukan kapasitas saya sebagai pesepakbola, khususnya sebagai seorang striker…


Sangat logis dan wajar hal tersebut mengemuka. Mengingat di dunia manapun seorang striker selalu dinilai dari berapa gol yang mampu mereka ciptakan, bukan dari seberapa besar peran orang tersebut dalam menunjang permainan tim…


Sejujurnya semua ini berawal dari sebuah kejenuhan. Seperti yang pernah saya kemukanan dahulu, jika musuh terbesar seorang pesepakbola ada 2 hal, yaitu cedera dan kejenuhan. Oleh karena itu seperti yang Anda ketahui, saya adalah pesepakbola yang tidak suka melihat pertandingan sepakbola…


Mengapa…??? Sebenarnya saya melakukan itu untuk menghindari faktor kejenuhan pada diri saya. Bayangkan jika setiap hari saya harus bergelut dengan sepak bola, dan ketika istirahat pun saya masih harus melihat pertandingan sepakbola, maka alangkah membosankannya hidup saya…


Selama 3 tahun terakhir saya hampir tidak pernah memiliki waktu untuk berlibur dari dunia sepakbola, ketika Liga Indonesia istirahat maka secara otomatis saya harus bergabung bersama Tim Nasional Indonesia. Hal tersebut terjadi secara terus menerus, hal tersebut membuat saya penat dan jenuh secara psikologis…


Kejenuhan yang saya alami beberapa waktu yang lalu membuat saya agak sedikit susah untuk berkonsentrasi dalam pertandingan. Hasilnya permainan saya pun sedikit turun dari level saya biasanya, kehilangan konsentrasi itu berdampak pada penyelesaian akhir saya yang tidak mampu menemukan sentuhan terbaik…


Selanjutnya kegagalan demi kegagalan untuk memanfaatkan peluang perlahan-lahan mulai mengikis rasa percaya diri saya di mulut gawang lawan.


Semakin saya merasa ingin segera mencetak gol, semakin saya menjadi terburu-buru dan tanpa perhitungan yang matang, sehingga mengurangi akurasi saya dalam melakukan penyelesaian akhir….


Sejujurnya kejadian ini bukanlah yang pertama menimpa diri saya. Bagi Anda yang masih ingat, pada musim 2001 saya juga pernah mengalami hal yang sama. Saat itu saya tidak mampu mencetak gol dalam kurun waktu 15 pertandingan, bahkan saat itu saya sempat menolak panggilan pelatih Tim Nasional saat itu (Benny Dollo) untuk bergabung dalam rangka Pra Piala Dunia 2002…


Saya menolak bergabung, karena saat itu secara fair harus saya katakan bahwa saya tidak dalam kondisi terbaik. Saat itu saya berpendapat jika pemain lain seperti Zainal Arief, Ilham Jayakesuma, Budhi Soedharsono dan Gendut Dony lebih siap secara mental dan psikologis dari pada saya.


Akan tetapi pada akhirnya rasa tanggung jawab terhadap profesi, yang membuat saya luluh dan memutuskan untuk bergabung dalam tim…


Saat itu kesabaran dan ketekunan untuk terus berusaha adalah kunci saya keluar dari situasi sulit. Terus berusaha dalam setiap kesempatan, dengan tanpa ada rasa terburu-buru serta tetap memelihara rasa optimis yang tinggi. Ketika saatnya datang maka gol itu akan lahir dengan sendirinya…


Dan ketika saya mencetak gol pertama saya, yaitu saat Persija di jamu PSBL Lampung di Lampung (3-1 saat itu saya mencetak 2 gol) dan sejak pertandingan itu saya kembali mampu mencetak gol dalam setiap pertandingan Persija. Dan pada akhirnya saya mampu membawa Persija menjuarai Liga Indonesia serta mampu menjadi pemain terbaik di tahun yang sama…


Di belahan dunia manapun, setiap pemain pasti pernah mengalami saat-saat dimana pemain tersebut jenuh dan kehilangan sentuhan, bagi pesepakbola hal tersebut adalah hal yang wajar. Contoh kecil adalah hal yang menimpa Cristian Gonzales (Persib Bandung) di putaran pertama lalu. El Loco sempat tidak mampu mencetak gol dalam 14 pertandingan. Akan tetapi ketika saatnya tiba, maka dia tidak akan berhenti untuk mendulang gol bagi Persib…


Sejujurnya hal ini juga sedang menimpa beberapa striker di Indonesia saat ini, akan tetapi berita itu tidak sesanter pemberitaan tentang saya, karena mungkin publik lebih menumpukan perhatian kepada saya, yang notabene sebagai pemain nasional…


Seorang sahabat saya pernah mengatakan “Sebagai public figure kita akan selalu diletakkan di atas Microscope” yang artinya kurang lebih, apapun yang terjadi pada diri kita akan dinilai masyarakat dan juga akan menjadi konsumsi publik. Terlebih lagi jika hal tersebut bermuatan negatif. Itu adalah sebuah konsekuensi yang harus dihadapi…


Secara pribadi saya katakan jika saya baik-baik saja, rasa khawatir itu memang ada, akan tetapi saya masih yakin dengan kemampuan yang saya miliki. Semua itu kembali kepada diri saya, di sini saya ditantang untuk mempertaruhkan reputasi yang telah saya bangun selama 12 tahun berkarir di dunia sepakbola…


Dan pada akhirnya semua itu kembali pada diri saya sendiri, bukan orang lain. Saya sendiri yang harus berusaha keras untuk mengembalikan level permainan saya. Dan sejujurnya dalam beberapa pertandingan terakhir, saya sudah mulai dapat menikmati lagi permainan ini, saya sudah kembali mampu berperan dalam menunjang strategi tim, yang belum datang hanyalah gol itu sendiri…


Sebelas pemain di dalam lapangan adalah kumpulan dari kepingan puzzle yang berserakan. Yang terpenting adalah bagaimana setiap individu menempatkan diri sesuai dengan skema gambar yang diinginkan seorang pelatih, sehingga pada akhirnya gambar itu akan terlihat dengan jelas dan indah…


Jika selama ini saya bagaikan sekeping puzzle yang salah tempat, maka apa yang ada dalam benak saya saat ini adalah, bagaimana membuat diri saya melakukan peran saya secara baik dan benar sesuai dengan skema dalam tim. Saya ingin menjadi kepingan puzzle di tempat yang tepat, itu dahulu awalnya. Dan jika saya sudah mampu melakukannya, maka lambat laun level permainan itu akan kembali dan Insya Allah saya akan mampu kembali mencetak gol dalam waktu dekat…


Pada akhir artikel ini, perbolehkan saya untuk mengutip sepenggal sajak dari seorang penyair terkenal dari Jerman yang bernama Friedrich Schiller. Penggalan sajak tersebut juga terdapat dalam 2 buah surat, yang ditulis oleh Bung Sutan Sjahrir ketika beliau dipenjara dan diasingkan di Cipinang dan Boven Digoel…


Sebuah sajak yang jika kita perhatikan secara seksama, mempunyai arti tersirat yang sangat mendalam. Sepenggal sajak yang pada teks aslinya berbahasa Jerman itu berbunyi demikian…


“Und setzt ihr das leben ein, nie wird euch das leben gewonnen sein / Life that is not put at stake, will not be won / Hidup yg tak  dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan” Friedrich Sciller (1723 - 1796)


Ini adalah bagian dari pertaruhan diri saya, pertaruhan dari reputasi yang saya bangun selama ini. Memang tidak semua pertempuran dalam hidup saya mampu saya menangkan, akan tetapi setidaknya saya selalu mampu mengeluarkan kemampuan terbaik saya untuk berjuang melawan. Itu membuat saya selalu merasa puas dengan segala hal yg terjadi dalam hidup saya…


Berbalik arah dan berlari jelas bukan karakter seorang Bambang Pamungkas. Maka mari kita lihat, apakah nantinya saya mampu mengembalikan reputasi saya…??? Sekali lagi semua itu kembali kepada diri saya sendiri.. Tetap Semangat Cah Getas…!!!!


Selesai…